Media Pembelajaran Semakin Canggih, Mengapa Literasi dan
Numerasi Justru Menurun?
Ketika Anak Menikmati Tampilannya, tetapi Kehilangan
Maknanya
Oleh: Ulul Azmi, S.Pd.
Dunia pendidikan terus bergerak
mengikuti perkembangan zaman. Ruang kelas yang dahulu hanya diisi papan tulis
hitam, kapur, buku paket, dan suara guru, kini berubah menjadi ruang belajar
yang penuh warna. Slide interaktif, video animasi, kuis digital, augmented
reality, hingga kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari proses
pembelajaran. Guru dituntut menjadi kreator konten, desainer grafis, editor
video, bahkan sutradara pembelajaran agar mampu menarik perhatian peserta
didik.
Perubahan ini tentu membawa
banyak manfaat. Pembelajaran menjadi lebih hidup, lebih menarik, dan tidak
monoton. Anak-anak tampak antusias ketika melihat gambar bergerak, animasi,
maupun video yang disajikan guru. Mereka tersenyum, tertawa, dan terlihat menikmati
setiap menit pembelajaran. Namun, di balik semua kemajuan itu, ada sebuah
pertanyaan besar yang patut kita renungkan bersama.
Apakah anak benar-benar
belajar, atau mereka hanya menikmati tontonan?
Pertanyaan ini mungkin terdengar
sederhana, tetapi jawabannya menyimpan kegelisahan banyak guru di lapangan. Hari
ini guru bekerja jauh lebih keras dibandingkan beberapa dekade lalu. Tidak
cukup hanya menguasai materi pelajaran, guru juga harus mampu menciptakan media
pembelajaran yang kreatif, inovatif, menarik secara visual, bahkan memanjakan
indera pendengaran peserta didik. Semua itu dilakukan agar siswa tidak bosan
dan mau mengikuti pembelajaran. Harapannya tentu sangat mulia. Anak belajar
dengan gembira, memahami materi, mampu berpikir kritis, dan akhirnya memperoleh
hasil belajar yang baik. Namun, realitas di lapangan sering kali tidak berjalan
seindah harapan.
Banyak peserta didik yang sangat
menikmati animasi, musik, video, dan efek visual yang ditampilkan. Mereka
tertawa ketika melihat gambar lucu, kagum melihat transisi yang menarik, bahkan
meminta video diputar kembali. Akan tetapi, ketika guru mulai mengajukan
pertanyaan mengenai isi materi yang baru saja ditampilkan, banyak di antara
mereka terdiam. Mereka mengingat gambarnya, tetapi lupa maknanya. Mereka
menikmati kemasannya, tetapi tidak menyerap isinya. Fenomena ini menjadi ironi
pendidikan modern.
Media pembelajaran seolah
berhasil merebut perhatian, tetapi belum tentu berhasil membangun pemahaman. Dampaknya
mulai terlihat pada kemampuan dasar peserta didik. Literasi dan numerasi yang
selama ini menjadi fondasi pendidikan justru menunjukkan tantangan yang semakin
besar. Tidak sedikit siswa tingkat SMP yang masih mengalami kesulitan membaca
dengan lancar. Ada yang mampu melafalkan setiap kata, tetapi tidak memahami isi
bacaan. Mereka selesai membaca satu paragraf, namun tidak mampu menjelaskan
maksudnya. Aktivitas membaca berubah menjadi sekadar melafalkan huruf, bukan
memahami pesan. Padahal hakikat membaca bukan hanya mengucapkan kata demi kata.
Membaca adalah memahami. Membaca adalah berpikir. Membaca adalah berdialog
dengan penulis. Jika pemahaman itu tidak hadir, maka kegiatan membaca
kehilangan esensinya.
Kondisi serupa juga tampak pada
kemampuan numerasi. Operasi hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan,
perkalian, hingga pembagian yang dahulu menjadi bekal wajib sejak sekolah
dasar, kini mulai menjadi tantangan bagi sebagian peserta didik di tingkat SMP.
Perhitungan sederhana pun sering kali harus dibantu kalkulator atau aplikasi
digital. Padahal kemampuan berhitung bukan sekadar soal angka. Numerasi melatih
logika, ketelitian, kemampuan mengambil keputusan, serta menyelesaikan
persoalan kehidupan sehari-hari.
Di sinilah kita perlu menoleh
sejenak ke masa lalu. Anak-anak zaman dahulu memang tidak memiliki proyektor,
internet, tablet, ataupun video animasi. Mereka belajar dengan fasilitas yang
jauh lebih sederhana. Buku seadanya, papan tulis biasa, bahkan terkadang hanya
mengandalkan penjelasan guru. Tetapi ada sesuatu yang sangat kuat dalam proses
belajar mereka. Mereka dibiasakan membaca berulang-ulang. Mereka menghafal
perkalian. Mereka menulis berkali-kali. Mereka berlatih menghitung tanpa
bantuan teknologi.
Bahkan masyarakat Jawa mengenal
berbagai cara berhitung tradisional yang sangat efektif. Salah satunya adalah
metode poro gapit, sebuah teknik berhitung yang dahulu begitu akrab di
telinga masyarakat. Metode seperti ini bukan hanya melatih kemampuan
menghitung, tetapi juga mengasah daya pikir dan ketangkasan otak anak. Kini,
istilah itu hampir tidak pernah terdengar lagi. Anak-anak lebih mengenal tombol
pencarian daripada proses berpikir. Lebih akrab dengan jawaban instan daripada
latihan yang berulang. Teknologi memang memberikan kemudahan, tetapi kemudahan
yang tidak diimbangi dengan proses berpikir dapat membuat kemampuan dasar
perlahan melemah.
Lalu, apakah media pembelajaran
inovatif adalah penyebab menurunnya kemampuan literasi dan numerasi? Tentu
tidak sesederhana itu. Media pembelajaran bukanlah musuh pendidikan. Justru
media adalah salah satu alat yang sangat penting dalam membantu guru
menjelaskan konsep-konsep yang sulit. Persoalannya bukan pada medianya. Persoalannya
adalah ketika media menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Ketika guru lebih sibuk
membuat animasi daripada memastikan siswa memahami materi. Ketika keberhasilan
pembelajaran diukur dari seberapa meriah tampilannya, bukan dari seberapa dalam
pemahamannya. Ketika siswa lebih mengingat efek visual daripada konsep yang
dipelajari. Di sinilah kita perlu melakukan refleksi bersama. Pembelajaran yang
menyenangkan memang penting. Pembelajaran yang menarik juga sangat diperlukan.
Namun, pembelajaran tidak boleh
berhenti pada rasa senang semata. Tujuan akhir pendidikan bukan membuat anak
berkata, "Videonya bagus." Tujuan akhirnya adalah membuat mereka
mampu berkata, "Sekarang saya paham." Karena sesungguhnya gambar yang
indah tidak selalu melahirkan pemahaman yang mendalam. Video yang menarik belum
tentu menghasilkan kemampuan berpikir kritis. Animasi yang memukau tidak
otomatis meningkatkan literasi dan numerasi. Media hanyalah jembatan. Yang
harus sampai ke tujuan adalah ilmu.
Guru masa kini memang menghadapi
tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Di satu
sisi, mereka harus mengikuti perkembangan teknologi agar pembelajaran tidak
ditinggalkan peserta didik. Di sisi lain, mereka juga memiliki tanggung jawab
menjaga agar kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, bernalar, dan
memahami tetap menjadi prioritas utama. Karena secanggih apa pun media
pembelajaran, sehebat apa pun animasi yang ditampilkan, dan semenarik apa pun
teknologi yang digunakan, semua itu akan kehilangan makna apabila peserta didik
hanya menikmati tampilannya tanpa memahami isinya.
Sudah saatnya kita membuka mata
dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Apakah pendidikan kita sedang
membangun generasi yang berpikir, atau hanya generasi yang pandai menikmati
layar? Semoga pertanyaan ini tidak berhenti sebagai kegelisahan, tetapi menjadi
awal lahirnya refleksi bersama. Sebab pendidikan bukan sekadar membuat anak
senang belajar, melainkan membentuk mereka menjadi manusia yang mampu memahami,
berpikir, bernalar, dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Itulah hakikat
pendidikan yang sesungguhnya.

3 comments
Tulis commentsTulisan yang sangat menarik, saya suka. Lanjutkan
ReplyKeren sekali Bapak, semangat selalu. Salam perjuangan
ReplySepertinya pelatih PM perlu membaca ini ya pak.
Reply