Minggu, 02 Agustus 2026

Media Pembelajaran Semakin Canggih, Mengapa Literasi dan Numerasi Justru Menurun? Ketika Anak Menikmati Tampilannya, tetapi Kehilangan Maknanya Oleh: Ulul Azmi, S.Pd.

Post oleh : Ulul Azmi Guru Besar | Rilis : 14.47 | Series :


 

Media Pembelajaran Semakin Canggih, Mengapa Literasi dan Numerasi Justru Menurun?

Ketika Anak Menikmati Tampilannya, tetapi Kehilangan Maknanya

Oleh: Ulul Azmi, S.Pd.

Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Ruang kelas yang dahulu hanya diisi papan tulis hitam, kapur, buku paket, dan suara guru, kini berubah menjadi ruang belajar yang penuh warna. Slide interaktif, video animasi, kuis digital, augmented reality, hingga kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari proses pembelajaran. Guru dituntut menjadi kreator konten, desainer grafis, editor video, bahkan sutradara pembelajaran agar mampu menarik perhatian peserta didik.

Perubahan ini tentu membawa banyak manfaat. Pembelajaran menjadi lebih hidup, lebih menarik, dan tidak monoton. Anak-anak tampak antusias ketika melihat gambar bergerak, animasi, maupun video yang disajikan guru. Mereka tersenyum, tertawa, dan terlihat menikmati setiap menit pembelajaran. Namun, di balik semua kemajuan itu, ada sebuah pertanyaan besar yang patut kita renungkan bersama.

Apakah anak benar-benar belajar, atau mereka hanya menikmati tontonan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya menyimpan kegelisahan banyak guru di lapangan. Hari ini guru bekerja jauh lebih keras dibandingkan beberapa dekade lalu. Tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, guru juga harus mampu menciptakan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, menarik secara visual, bahkan memanjakan indera pendengaran peserta didik. Semua itu dilakukan agar siswa tidak bosan dan mau mengikuti pembelajaran. Harapannya tentu sangat mulia. Anak belajar dengan gembira, memahami materi, mampu berpikir kritis, dan akhirnya memperoleh hasil belajar yang baik. Namun, realitas di lapangan sering kali tidak berjalan seindah harapan.

Banyak peserta didik yang sangat menikmati animasi, musik, video, dan efek visual yang ditampilkan. Mereka tertawa ketika melihat gambar lucu, kagum melihat transisi yang menarik, bahkan meminta video diputar kembali. Akan tetapi, ketika guru mulai mengajukan pertanyaan mengenai isi materi yang baru saja ditampilkan, banyak di antara mereka terdiam. Mereka mengingat gambarnya, tetapi lupa maknanya. Mereka menikmati kemasannya, tetapi tidak menyerap isinya. Fenomena ini menjadi ironi pendidikan modern.

Media pembelajaran seolah berhasil merebut perhatian, tetapi belum tentu berhasil membangun pemahaman. Dampaknya mulai terlihat pada kemampuan dasar peserta didik. Literasi dan numerasi yang selama ini menjadi fondasi pendidikan justru menunjukkan tantangan yang semakin besar. Tidak sedikit siswa tingkat SMP yang masih mengalami kesulitan membaca dengan lancar. Ada yang mampu melafalkan setiap kata, tetapi tidak memahami isi bacaan. Mereka selesai membaca satu paragraf, namun tidak mampu menjelaskan maksudnya. Aktivitas membaca berubah menjadi sekadar melafalkan huruf, bukan memahami pesan. Padahal hakikat membaca bukan hanya mengucapkan kata demi kata. Membaca adalah memahami. Membaca adalah berpikir. Membaca adalah berdialog dengan penulis. Jika pemahaman itu tidak hadir, maka kegiatan membaca kehilangan esensinya.

Kondisi serupa juga tampak pada kemampuan numerasi. Operasi hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian yang dahulu menjadi bekal wajib sejak sekolah dasar, kini mulai menjadi tantangan bagi sebagian peserta didik di tingkat SMP. Perhitungan sederhana pun sering kali harus dibantu kalkulator atau aplikasi digital. Padahal kemampuan berhitung bukan sekadar soal angka. Numerasi melatih logika, ketelitian, kemampuan mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kita perlu menoleh sejenak ke masa lalu. Anak-anak zaman dahulu memang tidak memiliki proyektor, internet, tablet, ataupun video animasi. Mereka belajar dengan fasilitas yang jauh lebih sederhana. Buku seadanya, papan tulis biasa, bahkan terkadang hanya mengandalkan penjelasan guru. Tetapi ada sesuatu yang sangat kuat dalam proses belajar mereka. Mereka dibiasakan membaca berulang-ulang. Mereka menghafal perkalian. Mereka menulis berkali-kali. Mereka berlatih menghitung tanpa bantuan teknologi.

Bahkan masyarakat Jawa mengenal berbagai cara berhitung tradisional yang sangat efektif. Salah satunya adalah metode poro gapit, sebuah teknik berhitung yang dahulu begitu akrab di telinga masyarakat. Metode seperti ini bukan hanya melatih kemampuan menghitung, tetapi juga mengasah daya pikir dan ketangkasan otak anak. Kini, istilah itu hampir tidak pernah terdengar lagi. Anak-anak lebih mengenal tombol pencarian daripada proses berpikir. Lebih akrab dengan jawaban instan daripada latihan yang berulang. Teknologi memang memberikan kemudahan, tetapi kemudahan yang tidak diimbangi dengan proses berpikir dapat membuat kemampuan dasar perlahan melemah.

Lalu, apakah media pembelajaran inovatif adalah penyebab menurunnya kemampuan literasi dan numerasi? Tentu tidak sesederhana itu. Media pembelajaran bukanlah musuh pendidikan. Justru media adalah salah satu alat yang sangat penting dalam membantu guru menjelaskan konsep-konsep yang sulit. Persoalannya bukan pada medianya. Persoalannya adalah ketika media menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Ketika guru lebih sibuk membuat animasi daripada memastikan siswa memahami materi. Ketika keberhasilan pembelajaran diukur dari seberapa meriah tampilannya, bukan dari seberapa dalam pemahamannya. Ketika siswa lebih mengingat efek visual daripada konsep yang dipelajari. Di sinilah kita perlu melakukan refleksi bersama. Pembelajaran yang menyenangkan memang penting. Pembelajaran yang menarik juga sangat diperlukan.

Namun, pembelajaran tidak boleh berhenti pada rasa senang semata. Tujuan akhir pendidikan bukan membuat anak berkata, "Videonya bagus." Tujuan akhirnya adalah membuat mereka mampu berkata, "Sekarang saya paham." Karena sesungguhnya gambar yang indah tidak selalu melahirkan pemahaman yang mendalam. Video yang menarik belum tentu menghasilkan kemampuan berpikir kritis. Animasi yang memukau tidak otomatis meningkatkan literasi dan numerasi. Media hanyalah jembatan. Yang harus sampai ke tujuan adalah ilmu.

Guru masa kini memang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Di satu sisi, mereka harus mengikuti perkembangan teknologi agar pembelajaran tidak ditinggalkan peserta didik. Di sisi lain, mereka juga memiliki tanggung jawab menjaga agar kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, bernalar, dan memahami tetap menjadi prioritas utama. Karena secanggih apa pun media pembelajaran, sehebat apa pun animasi yang ditampilkan, dan semenarik apa pun teknologi yang digunakan, semua itu akan kehilangan makna apabila peserta didik hanya menikmati tampilannya tanpa memahami isinya.

Sudah saatnya kita membuka mata dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Apakah pendidikan kita sedang membangun generasi yang berpikir, atau hanya generasi yang pandai menikmati layar? Semoga pertanyaan ini tidak berhenti sebagai kegelisahan, tetapi menjadi awal lahirnya refleksi bersama. Sebab pendidikan bukan sekadar membuat anak senang belajar, melainkan membentuk mereka menjadi manusia yang mampu memahami, berpikir, bernalar, dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

google+

linkedin

3 comments

Tulis comments
avatar
Jaitoe
Admin
2 Agustus 2026 pukul 15.13

Tulisan yang sangat menarik, saya suka. Lanjutkan

Reply
avatar
2 Agustus 2026 pukul 19.12

Keren sekali Bapak, semangat selalu. Salam perjuangan

Reply
avatar
Ri
Admin
2 Agustus 2026 pukul 20.08

Sepertinya pelatih PM perlu membaca ini ya pak.

Reply